Skip to Content

Ketika Tuhan Menjadi Ibu bagi Hati yang Berduka

23 سبتمبر 2026 by
Ketika Tuhan Menjadi Ibu bagi Hati yang Berduka
Pdt. Yasinta S. Kolinug,M.Th

Saat kehilangan seorang mama, rasanya sebagian dari dunia kita ikut pergi bersamanya. Mama adalah sosok yang pertama kali memberikan kehangatan, orang yang doa-doanya paling setia memeluk kehidupan kita, dan rumah tempat kita pulang tanpa pernah perlu pura-pura menjadi orang lain. Ketika rumah itu kini terasa sunyi, rasa sakitnya sangat nyata.

Berikut adalah renungan yang disusun untuk merangkul duka, memberikan penghiburan, dan meneguhkan hati di masa-masa sulit ini.

Judul: Ketika Tuhan menjadi Ibu bagi Hati yang Terluka

Bacaan Alkitab:

“Seperti seseorang yang dihiburkan ibunya, demikianlah Aku akan menghibur kamu.”
— Yesaya 66:13a

Renungan:

Tidak ada kesedihan yang dampaknya sedalam ketika kita melepas kepergian seorang ibu. Dalam sekejap, hal-hal kecil terasa amat memukul: tawa atau suaranya yang biasa memanggil nama kita, piring di meja makan yang kini kosong, gawai yang tak lagi memunculkan pesan singkat darinya, atau sekadar ruang tamu yang mendadak terasa begitu lengang.

Di hari-hari pertama tanpa Mama, rasanya wajar jika langkah kaki terasa begitu berat dan dada terhimpit sesak. Kita mungkin sering bertanya-tanya, “Bagaimana cara melanjutkan hari-hari ke depan tanpa hadirnya?”

Duka adalah bukti betapa besarnya kita mencintai Mama. Rasa sakit dan air mata yang menetes saat ini bukanlah tanda hilangnya iman, melainkan ungkapan betapa berharganya sosok beliau dalam hidup kita. Tuhan Yesus sendiri menangis ketika sahabat-Nya meninggal, sebab Ia memahami betul betapa dalamnya rasa kehilangan yang dirasakan manusia.

Namun, di tengah kesunyian dan kepedihan ini, Firman Tuhan dalam Yesaya 66:13 mengingatkan kita akan satu hal: “Seperti seseorang yang dihiburkan ibunya, demikianlah Aku akan menghibur kamu.” Tuhan tahu persis bagaimana rasanya kasih seorang ibu—sebab Dialah sumber dari kasih itu sendiri. Ketika Mama yang biasa memberikan kehangatan itu telah berpulang, Tuhan tidak membiarkan kita sendirian. Dialah yang kini mengambil alih pelukan hangat itu untuk membalut hati kita yang hancur.

Mama mungkin telah menyelesaikan perjalanannya di dunia ini. Rasa sakit, lelah, dan kesakitannya kini telah berganti dengan kedamaian kekal di rumah Bapa. Cinta dan teladan yang pernah Mama tanamkan dalam hidup kita tidak pernah hilang; semuanya akan tetap hidup dan berbuah di dalam diri kita.

Ketika rasa rindu itu datang menyeruak dan membuat air mata menetes, luapkanlah di hadapan Tuhan. Biarkan setiap kenangan manis bersama Mama menjadi pengingat betapa beruntungnya kita pernah memiliki seorang mama yang begitu luar biasa. Dan yakinlah, di setiap detik duka ini, Tuhan sedang memeluk erat hati yang terluka, memberi kekuatan untuk melangkah satu demi satu hari.

Doa Penutup:

Ya Tuhan, Bapa kami yang penuh kasih,

Di tengah rasa sakit dan duka yang amat dalam ini, kami datang membawa hati kami yang hancur karena kepergian Mama terkasih. Terima kasih untuk setiap detik kehidupan, kasih sayang, kehangatan, dan doa yang telah Engkau salurkan melalui sosok Mama sepanjang hidupnya.

Tuhan, kami mengaku bahwa kami lemah dan amat kehilangan. Namun, kami bersyukur karena Engkau berjanji untuk hadir dan menghibur kami seperti seorang ibu menghibur anaknya. Peluklah hati kami yang sedang berduka ini. Berikan kami kedamaian yang melampaui segala akal, dan ajarkan kami untuk merelakan Mama ke dalam tangan-Mu yang penuh kasih.

Kiranya teladan kasih dan kebaikan Mama terus hidup di dalam kami. Kuatkan langkah kami untuk melanjutkan hari-hari ke depan dengan iman yang teguh. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa dan berserah.

Amin.

Tenang, Ada Tuhan